Tuesday, February 19, 2013

0 RSUD Bumiayu Harus Utamakan Fungsi Sosial


Bupati Brebes, Jawa Tengah, Hj Idza Priyanti SE, mengharap keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bumiayu, benar-benar memiliki fungsi sosial dengan memberikan pelayanan perawatan dan pemulihan kesehatan bagi masyarakat.

"RSUD Bumiayu hendaknya benar-benar memiliki fungsi sosial untuk pelayanan kesehatan masyarakat," katanya saat memberi pengarahan pada acara pengambilan sumpah/pelantikan pejabat struktural pada RSUD Bumiayu, Senin 18 Februari 2013.

Menurutnya, RSUD juga jangan terjebak seperti visi hotel yang mengutamakan kemewahan. Sebaliknya, harus dapat melayani kebutuhan pemulihan kesehatan bagi masyarakat dan tetap memberikan fasilitas bagi warga yang tidak mampu. "Fasilitas untuk untuk warga tidak mampu diutamakan sesuai dengan aturan," ujar Idza.

Dikatakan, kepada para pejabat struktural yang dilantiknya diminta untuk mengutamakan integritas, loyalitas dan komitmennya sebagai pelayan masyarakat. "Netralitas dan sensitivitas serta responsif hendaknya juga dimiliki," ucap Idza.

Sementara pejabat yang dilantik adalah, drg Rozikin sebagai Direktur RSUD Bumiayu, Wijayanto SKM sebagai Kasubbag Tata Usaha RSUD Bumiayu, dr Dedy Iskandar Zulkarnaen sebagai Kasi Pelayanan RSUD Bumiayu dan sumarno AMK sebagai Kasi Perawatan RSUD Bumiayu.

Pelantikan ditandai dengan pengambilan sumpah jabatan dan penandatanganan pakta integritas. Pelantikan dihadiri Wakil Bupati Brebes, Narjo dan beberapa pejabat di lingkungan Setda Brebes. Menyaksikan pula para Camat di Brebes bagian selatan dan juga tokoh masyarakat.

Friday, February 15, 2013

0 Kematian Ibu Hamil di Brebes Tertinggi se-Jateng


PanturaNews (Brebes) - Angka kematian ibu hamil dan saat persalinan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, masih cukup tinggi. Pada tahun 2012 tercatat sebanyak 51 orang ibu atau meningkat dari tahun sebelumnya yang jumlahnya 34 orang. Demikian dungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Brebes, dr. H. Sri Gunadi Parwoko, M.Kes, usai mengikuti apel pagi bersama Bupati Brebes, Idza Priyanti, di Kecamatan Bumiayu, Kamis 14 Februari 2013.

"Angka kematian ibu hamil saat persalinan masih tinggi atau sebanyak 51 orang untuk tahun 2012 tahun sebelumnya 34 orang," ujarnya

Menurutnya, angka sebesar itu tertinggi di Jawa Tengah karena jumlah penduduk di Brebes juga termasuk yang tertinggi. Pihaknya kini berupaya untuk dapat menurunkan angka kematian ibu hamil itu serendah mungkin pada tahun 2013 ini.

"Sedang kita upayakan untuk menurunkan angka itu serendah mungkin," kata Gunadi.

Dikatakan, beberapa langkah dilakukan baik program maupun upaya pelayanan kesehatan sampai ke tingkat paling rendah. Pelayanan kesehatan di Puskesmas terus ditingkatkan juga melalui bidan desa, serta kader-kader kesehatan yang ada di setiap desa.

"Upaya terus kami lakukan termasuk dengan pelayanan kesehatan dan persalinan secara gratis," ucap Gunadi.

Dia mengungkapkan, kebanyakan kematian ibu hamil saat persalinan terjadi di Rumah Sakit (RS) dan kurang dari 24 jam. Hal itu terjadi kemungkinan adanya beberapa kendala saat dirujuk, mungkin ibu hamil itu enggan dirujuk atau juga karena faktor lainnya.

"Bisa jadi ada kendala dalam sistem rujuknya atau juga karena tidak mau dirujuk, ini yang akan kita benahi," tutur Gunadi.

Ditambahkan, dalam upaya menurunkan tingkat kematian ibu hamil saat persalinan Dinkes Brebes juga akan menggandeng Unicef dan Ausaid, dua lembaga PBB yang menangani masalah anak dan kesehatan. "Kita akan coba untuk bisa mendapat bantuan dan dukungan dari Unicef dan Ausaid," tandas Gunadi.

Sementara itu diperoleh informasi, di Jawa Tengah angka kematian ibu hamil dan saat persalinan paling banyak di Brebes (51 orang), disusul Kabupaten Tegal (39 orang), Pemalang (35 orang), serta Cilacap dan Grobogan masing-masing (34 orang).

 Sedang untuk Kota Solo (enam orang), Boyolali (15 orang), Karanganyar (17 orang), Klaten dan Sragen masing-masing 19 orang, Wonogiri (13 orang) Sukoharjo (9 orang).

Thursday, February 14, 2013

2 Manusia Serakah Alam Membalas


Musibah tanah longsor di Dukuh Luwung Desa Plompong Kecamatan Sirampog, Brebes, terjadi akibat kesalahan tata kelola lingkungan. Untuk itu, pemerintah kabupaten ke depan diharapkan lebih concern terhadap lingkungan, salah satunya penghijauan lahan/bukit yang seharusnya berfungsi sebagai tangkapan air.
Penegasan itu disampaikan anggota Komisi VII DPR RI, Dewi Aryani saat meninjau sekaligus menyerahkan bantuan kepada para korban bencana, Rabu (13/2).

"Saya melihat ada beberapa kegiatan tata lingkungan yang memang harus dibenahi. Tapi saya yakin bupati dan wabup memiliki komitmen terhadap lingkungan karena Ketua Umum PDIP telah mencanangkan tiga hal yang harus dijaga dan dibenahi yakni energi, air dan lingkungan," kata politikus PDIP  itu.

Dewi yang hadir bersama Wabup Narjo, Ketua DPC PDIP H Indra Kusuma, anggota DPRD Brebes Nasikun dan tim RCTI Peduli menyerahkan bantuan beras sebanyak 4 ton, gula 1 ton, minyak goreng 1 ton, 200 tas sekolah dan santunan untuk delapan korban.

Menurut Dewi, untuk mencegah bencana serupa di kemudian hari maka rehabilitasi lahan dan lingkungan harus segera dilakukan yakni dengan penghijauan. Untuk keperluan tersebut, pihaknya mengaku telah menyiapkan sebanyak 30.000 bibit pohon.

Bagaimana dengan aktivitas cocok tanam jagung di lokasi longsor? Dewi menegaskan, hal tersebut menjadi tantangan bagi pemkab untuk mengubah kebiasaan masyarakat menanam jagung pada lahan atau lokasi yang membahayakan seperti titik longsor.

Menurutnya, salah satu yang bisa dilakukan oleh pemkab adalah merelokasi lahan jagung ke lokasi yang aman. "Kita tidak bisa langsung melarang aktivitas cocok tanam jagung di bukit itu karena menyangkut penghidupan warga. Secara perlahan mereka harus diberi pemahaman," katanya.

Wakil bupati Narjo menyatakan, pemerintah kabupaten siap melakukan rehabilitasi lingkungan di kawasan hulu. Berkaitan dengan aktivitas cocok tanam dan perlunya relokasi lahan jagung, wabup menegaskan hal tersebut akan dikoordinasi dan dibahas bersama satuan dinas terkait lainnya.

Sementara ketua RT 07 RW 07 Dukuh Luwung Plompong, Waryo menyatakan, pihaknya belum dapat dapat memastikan apakah nantinya masyarakat akan menghentikan cocok tanam jagung di bukit perhutani atau tidak. "Tapi yang jelas saat ini kawasan longsor tertutup untuk aktivitas. Warga juga tidak ada yang menggarap lahan karena masih sering hujan dan kondisi di atas masih labil," katanya.

Wednesday, February 13, 2013

0 Waspada Lewat Jembatan Kali Kerur


Perbaikan darurat Jembatan Keruh di Jalan Lingkar Bumiayu dengan menguruk bagian oprit yang longsor dengan material tanah tidak bertahan lama. Sebab, material urukan kembali melorot sehingga dikhawatirkan jembatan kembali ambles saat banjir menerjang.

“Bronjong pengaman ambrol sehingga kalau banjir datang arusnya langsung menerjang oprit jembatan. Bila tidak ada penanganan jembatan bisa ambles lagi,” kata Slamet Riyadi, warga Bumiayu.

Pihaknya berharap kondisi tersebut dapat segera menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini Bina Marga Provinsi. “Jika tidak ada penanganan material urukan akan terus melorot. Ini berarti hanya buang-buang uang saja,” katanya.

Slamet menambahkan, jika Bina Marga Pemprov belum melakukan perbaikan susulan dalam waktu dekat, Pemkab Brebes harus segera mengambil tindakan. “Kami mengapresiasi langkah cepat bupati Idza Priyanti dalam penanganan bencana yang menyebabkan jembatan keruh rusak.  Kami minta Pemkab mendesak Bina Marga Pemprov melakukan perbaikan secara permanen,” kata Slamet.

Kepala Dinas PU dan Tata Ruang Ahmad Satibi menyatakan atas perintah bupati pihaknya telah melakukan langkah langkah penanganan darurat paska ambrolnya oprit jembatan. Dalam hal penanganan permanen, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Bina Marga Provinsi.

Selain penanganan jembatan, Pemkab juga telah berkoordinasi dengan PSDA Provinsi terkait penanganan alur sungai di hulu maupun hilir jembatan. “Atas masukan masyarakat terkait kondisi jembatan Keruh segera kita tindaklanjuti ke Bina Marga Provinsi,” katanya.

0 Belum Ketemu, Pencarian Dihentikan


BUMIAYU - Pencarian korban tertimbun tanah longsor di Dukuh Luwung Plompong, Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Brebes,  resmi dihentikan, Senin (11/2) pukul 11.15.

Hal itu menyusul adanya pernyataan keluarga yang telah mengikhlaskan keberadaan dan nasib para korban. Hingga hari kelima setelah bencana, korban yang belum ditemukan adalah Sutar (50), Kastrap (60) dan Radun (50). Seluruhnya warga Luwung Desa Plompong.

Sebelum pencarian dihentikan, tim evakuasi yang terdiri atas SAR, TNI, dan Polri yang dibantu dengan alat berat berhasil menemukan jenazah Sumi (60). Korban ditemukan sekitar pukul 10.00 di sebelah barat lokasi penemuan jenazah Taryo sekitar dengan kedalaman timbunan tanah hampir mencapai tiga meter. Jenazah Sumi ditemukan utuh dengan posisi telungkup menghadap ke timur. Di bagian punggungnya masih terikat gendongan berisi jagung.

Jenazah langsung dievakuasi ke Posko Bencana untuk dimandikan untuk kemudian sekitar pukul 15.00 dimakamkan di pemakaman umum setempat.  

Dengan demikian, tim evakuasi yang bekerja sejak Kamis (7/2) atau sehari setelah longsor menerjang berhasil menemukan dua jenazah. Sebelum Sumi, jenasah Taryo (55) ditemukan terlebih dulu pada Jumat (8/2). Korban tewas lainnya Rapimah (45) dievakuasi warga beberapa saat setelah longsor menerjang. Adapun korban selamat adalah Sukim (40) dan anaknya Hamdan (4).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes Rais Khana menyatakan seluruh tim evakuasi ditarik dari lokasi sesaat setelah upaya pencarian korban resmi dihentikan pukul 11.15. “Keluarga korban telah ikhlas sehingga pencarian dihentikan,” katanya. Diungkapkan, kendala terberat dalam evakuasi korban adalah masalah cuaca dan peralatan. Selain itu, titik longsor juga rawan sehingga dikhawatirkan membahayakan tim evakuasi.

“Sebelum alat berat datang dan beroperasi, timbunan longsor berkedalaman 3 meter sampai 5 meter hanya digali dengan cangkul,” katanya.  
 

Kabar Brebes Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates